BATIK FRACTAL, Batik Matematika yang “Marketable”

0
3259

Mendesain batik dengan sistem komputerisasi belum lama ditemukan. Tetapi, prospek pasarnya cukup besar. Lalu, bagaimana strategi pemasarannya?

Kita mungkin belum familiar dengan nama Batik Fractal. Maklum, nama itu belum lama hinggap di telinga dan mata kita. Merek tersebut baru mencuat setelah memenangkan Generative Art International Conference, sebuah konferensi desain di Milan, Italia, Desember 2007. Itu pun tak langsung meloncat ke publik.

Batik yang berbasis software bernama “jBatik” itu benar-benar dikenal pasar setelah kembali mendapatkan penghargaan internasional, yakni Unesco Award (Award of Excellence) pada Oktober lalu di Bangkok, Thailand. Batik Fractal dinilai sebagai stamp of approval yang menjamin produk tersebut berkualitas tinggi di kancah internasional dan berpotensi besar untuk masuk ke pasar dunia (marketable).

Ada empat kategori utama yang menjadi penilaian Unesco agar sebuah produk bisa mendapatkan Award of Excellence. Pertama, excellent, yaitu menunjukkan standar yang tinggi dalam kualitas pengerjaan kerajinan (craftmanship). Kedua, authentic; mencerminkan identitas budaya dan nilai tradisional. Ketiga, innovative; menggunakan kreativitas dalam desain dan proses produksi. Keempat, marketable; menunjukkan potensi untuk diterima pasar dunia.

Di samping itu, ada dua syarat lain yang mesti dipenuhi berkaitan dengan proses pengerjaan produk kerajinan. Dua syarat itu, yakni eco-friendly (ramah lingkungan dalam penggunaan material dan teknik produksi) dan fair (tidak melanggar hukum ketenagakerjaan, mengeksploitasi pihak maupun secara tidak adil dalam proses produksi).

Artinya, karya batik modern ini baru diterima pasar di negeri sendiri setelah “orang lain” (pasar luar negeri) menerimanya. Ini sebuah ironi atas kemampuan dan kreativitas bangsa Indonesia. Sebab, jangankan swasta, pemerintah saja tidak memberikan apresiasi terhadapnya.

Simak saja cerita Nancy Margried, Head of Business Pixel People Project, payung dari Batik Fractal, berikut ini. Mulanya ide ini sudah lama diperbincangkan. Ketika itu, temannya, Muhamad Lukman, sedang mengerjakan tesis mengenai desain bangunan dengan rumus matematika. Dipikir-pikir teknik untuk mendesain arsitektur bisa juga digunakan untuk menggambar tumbuhan, hewan, dan kerajinan tangan.

Kemudian, mereka mencoba menggambar dengan software yang sama dalam konteks batik. Mereka menyadari ada peluang pasar di sini. Sebab, gambar matematika itu kalau tidak diberi unsur tertentu menjadi tak banyak berarti. Tapi, jika gambar itu diaplikasikan ke dalam bentuk batik, ada konteks besar yang muncul.

“Kalau boleh jujur, kami memasukkan rumus matematika ke dalam konteks batik itu memang berkaitan dengan marketing. Kami melihat ada peluang pasar yang cukup bagus, karena produk kami memiliki diferensiasi yang luar biasa. Ini salah satu strategi marketing kami untuk menunjukkan produk tersebut,” tandas Nancy.

Setelah mantap dengan tekad mereka, selain dengan Luki, panggilan akrab Muhamad Lukman yang sekarang menjabat sebagai head of design, Nancy bersama Yun Hariadi, Head of Research Pixel People Project, meneliti Batik Fractal ini di sebuah laboratorium milik pemerintah. Penelitian ini agar menghasilkan desain-desain yang benar-benar bagus dan bisa dipertanggungjawabkan sebagai batik.

Namun, usai penelitian, kendala yang dirasakan menghadang. Kekurangan dana membuat temuan mereka tidak bisa dikembangkan menjadi produk massal. Mereka bertiga pusing tujuh keliling. Nah, keluar ide untuk mengikuti sebuah ajang Generative Art International Conference di Milan, Italia, itu. Pasalnya, satu-satunya jalan agar banyak diketahui pasar adalah dengan mengikuti ajang bergengsi dengan harapan mendapatkan publikasi gratis.

Sebagai pengelola bisnis, Nancy mendapat tugas mencari sponsor dalam rangka mengikuti ajang internasional tersebut. Proposalnya dilayangkan ke berbagai lembaga pemerintah dan swasta, termasuk Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, dan Departemen Pariwisata. Ternyata tidak ada yang menggubris. Jawaban sama sekali tak didapatkannya.

Terakhir, Pixel People Project mengajukan permohonan dana ke Pemerintah Kota Bandung. Dari Wali Kota Bandung, Dada Rosada, akhirnya mereka mendapatkan dana yang diharapkan. Tapi, tetap saja harapan itu tak seratus persen terpenuhi. Dada memberikan sedikit modal yang cuma cukup untuk kepergian satu orang di antara mereka. Luki-lah yang berangkat.

“Alhamdulillah menang. Padahal, kami tidak terlalu berharap untuk menang karena ajang itu merupakan ajang bergengsi di kancah internasional. Dari negara-negara lain juga banyak sekali. Apalagi, tim kami hanya satu orang saja yang ikut,” ucap Nancy.

Langkah selanjutnya, mereka mencoba menyampaikan ke pemerintah atas kemenangan itu. Karena itu dianggap satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Apalagi, Batik Fractal telah membawa dan bekerja untuk nama baik negara Indonesia. Hasilnya, Kementerian Riset dan Teknologi memberikan tanggapan dan dana untuk mengadakan pameran di Bandung dan Jakarta.

“Karena saya orang public relations, jadi saya selalu bergerak dari publikasi dahulu. Biasanya orang kalau membuat perusahaan kan mulai dari modal, kantor, dan produknya terlebih dahulu. Di kami infrastruktur itu malah belum ada. Jadi, kami membangun bisnis ini dengan cara terbalik. Tapi, menurut saya, ini merupakan kekuatan ide. Jadi, baik caranya terbalik ataupun konvensional, tetap bisa berjalan,” terang Nancy.

Batik Fractal yang dikerjakan dengan software jBatik ciptakan Luki memang sangat berbeda. Apabila proses pembuatan motif batik tradisional dilakukan dengan tangan dan intuisi, sementara Batik Fractal dikerjakan dengan komputer dan tidak berdasarkan intuisi. Rumus matematika dan perangkatnya yang bekerja. Soal pengecatannya tetap harus melalui cara konvensional andai ingin disebut kain batik.

Meski sebagai penemu sistem penggambaran Batik Fractal, Pixel People Project tidak lantas memonopoli pekerjaan penggandaannya. Untuk memproduksi batik tersebut, Pixel People Project bekerja sama dengan Batik Komar—pusat kerajinan batik yang cukup terkenal di Bandung. Setiap pesanan yang diterima Pixel akan diserahkan ke Batik Komar untuk diproduksi.

Pixel akan mendapatkan revenue sharing dan royalty fee untuk desain dari Batik Komar. Revenue sharing dan royalty fee itu kurang lebih sekitar 30% per batik. Rata-rata batik yang ditawarkan Pixel berukuran 2 x 1 meter dengan harga antara Rp 2-4 juta. Bahkan harganya bisa lebih dari itu apabila proses desainnya lebih rumit dan memakan waktu lama.

Setiap batik rata-rata memerlukan waktu pengerjaan, termasuk desain, 3-4 minggu. Mayoritas Batik Fractal dipesan melalui website. Pasar konvensional belum banyak yang tahu, karena memang belum memproduksi skala besar. Workshop-nya saja tidak ada. Jadi, pola pemasarannya lebih ke personal selling dan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) menjadi andalannya.

Pemesannya berasal dari banyak daerah, di antaranya Surabaya, Pekalongan, Kalimantan, Medan, dan paling banyak dari Jakarta. “Penyuka batik atau kolektor batik banyak yang memesan kepada kami. Kami memberikan waktu untuk berkonsultasi desain, sehingga produk kami lebih customized. Pak Menteri Kusmayanto Kadiman pun sering membeli batik kami,” papar Nancy.

Pixel menetapkan positioning Batik Fractal adalah high class. Segmentasi yang dituju lebih ke menengah ke atas. Pasar kelas atas tersebut mempunyai kekuatan untuk menyebarkan berita positif dan efektif. Word of mouth jadi lebih berhasil dan kuat. Maka dari itu, walau dengan segala keterbatasan, setiap bulannya Pixel menerima 10 pesanan batik.

“Saat ini kami sudah menjalin kerja sama dengan lembaga pembiayaan asing untuk mengembangkan software-nya. Dan, kami terus menjalin hubungan dengan berbagai pihak untuk memperkenalkan Batik Fractal,” ucap Nancy seraya menyebutkan bahwa mereka telah bekerja sama dengan Gabungan Koperasi Batik Indonesia, perancang busana Era Sukamto, dan lain sebagainya.

Melalui perancang busana Era Sukamto, misalnya, beberapa karya mereka dipamerkan dalam kegiatan pertunjukan (fashion show), seperti di Jakarta Fashion Show pada Agustus lalu. “Saya melakukan promosi dari berbagai arah,” tutur Nancy seraya menambahkan, Batik Fractal yang unik ini diharapkan nantinya bisa dikembangkan sehingga bisa menekan biaya produksinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.