Mengubah Hobi Menjadi Cuan, Kisah Sukses Rani Tamara Merintis Bisnis Kecantikan

0
93
Mengubah Hobi Menjadi Cuan, Kisah sukses Rani Tamara Merintis Bisnis Kecantikan

Mengubah Hobi Menjadi Cuan, Kisah sukses Rani Tamara Merintis Bisnis KecantikanMarketing.co.id – Berita UMKM | Dewasa ini pertumbuhan bisnis kecantikan memang cukup menggembirakan. Setiap tahunnya, rata-rata pertumbuhan bisnis kecantikan di atas 5%.

Oleh karena itu, banyak orang yang mencari peruntungan dari bisnis kecantikan, mulai dari membuka salon kecantikan, klinik kecantikan sampai produk kecantikan.

Rani Tamara, CEO PT Dalila Derma Group adalah salah satu orang yang merambah bisnis kecantikan dengan membangun bisnis maklon produk kecantikan serta pelatihan kecantikan.

Rani yang tak memiliki latar belakang medis pada awalnya hanya senang dengan hal yang berbau kecantikan, namun lewat bimbingan dr. Mufiana Ari Utami M.Si, Dipl. Cidesco hobinya itu berubah menjadi cuan.

Rani paham betul bahwa berbisnis kecantikan erat kaitannya dengan kesehatan, sehingga mulai dari metode hingga pemilihan bahan harus dipastikan aman dan tanpa efek samping. Ia pun terus mengikuti serangkaian kegiatan pelatihan sampai seminar-seminar kecantikan hingga mendapatkan gelar Diploma Cosmetology.

“Sebagai non medis yang dibimbing langsung dokter kecantikan akhirnya saya bisa menembus industri kecantikan dan bahkan saat ini menjadi trainer kecantikan,” ujarnya.

Tak hanya sampai di situ, Rani melalui PT Dalila Derma Group juga merintis usaha maklon untuk produk-produk kecantikan. Lewat usahanya itu pula, kini Ia mulai meraih kesuksesan dan terus melebarkan sayap bisnisnya.

Asal tahu saja, bisnis ini digelutinya bukan hanya untuk meraup cuan semata, tetapi membantu masyarakat Indonesia untuk mendapatkan produk berkualitas baik dengan harga terjangkau.

“Dalam bisnis permaklonan itu kami bisa membantu pengusaha yang lebih kecil dengan kuantiti ekonomis tanpa menekan cost produksi, sehingga bisa membantu pengusaha kosmetik yang baru merambah ke dunia kecantikan,” lanjutnya.

Misalnya, untuk bisa me-maklon-kan produk tertentu biasanya dibutuhkan setidaknya 1000 pcs minimal pemesanan. Namun Rani membuka kesempatan dengan minimal pesanan 100 pcs untuk satu maklon. Hal ini tentu akan membantu cash flow dari pengusaha produk kecantikan, karena biaya produksi yang lebih murah.

“Kalau jumlah pemesanannya langsung besar tetapi tidak langsung terjual kan kasian. Makanya jumlah pemesanannya bisa dimulai dari 100 pcs, nantinya kalau penjualan naik tentunya pesanan maklon juga akan naik,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.