Perusahaan Asal Banyuwangi Ekspor 1 Juta Liter Reduktan Herbisida ke Malaysia

0
1448
Kebun kelapa Sawit
Perkebunan kelapa sawit. Foto: Ipp.co.id

Marketing.co.id – Berita Marketing | Setelah sebelumnya di awal tahun 2021 melakukan ekspor perdana ke Malaysia, kini PT. Pandawa Agri Indonesia (PAI) menutup tahun 2021 dengan merayakan ekspor 1 juta liter produk Reduktan Herbisida mereka, yaitu “Weed Solut-ion” yang juga akan diekspor seluruhnya ke negeri Jiran, Malaysia.

Keberhasilan PAI dalam ekspor tersebut membuktikan, bahwa bahwa produk lokal berbasis kekayaan biodiversitas Kabupaten Banyuwangi  mampu berkontribusi dalam menciptakan pertanian yang berkelanjutan dengan mengurangi penggunaan pestisida sintetis hingga 50%.

“Dunia saat ini membutuhkan solusi. Herbisida saat ini sedang mengalami kenaikan harga yang sangat  signifikan. Salah satu contohnya adalah kenaikan harga glifosat hingga 3 kali lipat yang hingga saat inidampaknya dialami oleh petani kita. Kenaikan harga ini disebabkan oleh betapa tergantungnya kita terhadap produksi di China, sehingga disaat terjadinya permasalahan di rantai pasok dunia, petani kita jadi tidak punya pilihan selain menerima kenaikan harga yang berlipat-lipat tersebut,” tutur Kukuh Roxa, CEO PT. Pandawa Agri Indonesia.

Menurut Kukuh ketergantungan terhadap produk herbisida China berpotensi akan terus terulang di masa yang akan datang, karena dunia memang sedang membuat kesetimbangan baru dengan masalah iklim dan juga ancaman pandemi.

Baca juga: Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim 3,45 Persen dari PDB

“Kami di Pandawa Agri Indonesia (PAI) ingin menjadi bagian dari solusi terhadap ketidakpastian ini, dengan memproduksi subtitusi pestisida yang lebih ramah lingkungan dengan kualitas yang diakui oleh dunia, kebutuhan hingga 1 juta liter dalam kurun waktu hanya setahun dari ekspor perdana kami menjadi salah satu validasi dari harapan kami tersebut” tegas Kukuh.

Dalam setiap krisis pasti diikuti juga dengan munculnya peluang baru. Begitu pun yang dirasakan oleh PAI. Harga herbisida yang kian meroket dan kenyataan bahwa petani di lapangan membutuhkan alternatif subtitusi untuk membantu mengefisiensikan biaya pengendalian gulma yang sudah mereka keluarkan, serta mengingat imbas kenaikan harga herbisida ini dirasakan secara global tidak hanya lokal, Hal ini memacu PAI untuk secara bertahap mulai melakukan ekspansi produksi dalam rangka proyeksi perusahaan kedepannya.

Kukuh menambahkan, pihaknya merasa surprise karena banyak distributor multinasional yang berminat menjadi mitra bisnis PAI, mulai dari Asean, Afrika, hingga Amerika Latin.

“Mereka menilai WS (Weed Solut-ion) bisa menjadi solusi permasalahan yang mereka hadapi selama ini dalam mengurangi dosis penggunaan herbisida hingga 50%, karena memang banyak negara di luar sana yang sudah mempunyai regulasi untuk mengurangi penggunaan pestisida dari 25% hingga 50%, namun belum menemukan solusi yang tepat. Ditambah dasar dari produk kami yang ramah lingkungan bahkanmemberikan efisiensi biaya pembelian pestisida hingga 40% membuat mereka berharap kita bersedia membuka diri untuk pasar yang lebih luas. Itulah yang mendasari perencanaan kami dalam meningkatkan fasilitas produksi yang kami miliki saat ini secara bertahap hingga 50 kali dari yang kami miliki sekarang,” ungkap Kukuh.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Marolop Nainggolan mengatakan, hampir semua kebutuhan industri kimia dalam negeri masih tergantung terhadap impor, sebanyak 90 persen lebih bahan kimia yang digunakan masih dipenuhi dari luar negeri.

Menurut Marolop, Indonesia sangat mungkin untuk memproduksi bahan baku kimia sendiri karena  memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mumpuni atau kompeten.

Baca juga: Pentingnya Peran Hutan dalam Ekonomi Sirkular

“Mengapa kita tidak mulai mencoba untuk memproduksi bahan baku sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor? Ditambah proses produksi dari reduktan herbisida ini merupakan proses yang sangat rendah emisi karbon, sehingga sejalan dengan target dunia untuk menurunkan emisi karbon tersebut. Industri kimia salah satunya pestisida merupakan penyumbang carbon footprint terbesar ketiga setelah baja dan semen” ujar Marolop.

Kementrian Perdagangan memperkirakan ekspor produk kimia akan mencapai USD 13,7 miliar hingga akhir tahun 2021 nanti. Ekspor produk kimia mengalami tren positif, baik dari sisi nilai dan volume sepanjang periode 2015-2020. Secara keseluruhan tren nilai naik sebesar 3,2 persen sedangkan tren volume naik sebesar 8,2 persen. Sementara itu, periode Januari-April 2021, nilai ekspor tumbuh signifikan sebesar 38,1 persen.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Bisnis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.