Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Dunia Pendidikan Indonesia, Quo Vadis? (II)

www.marketing.co.id Dalam tulisan sebelumnya mengenai Dunia Pendidikan Indonesia, Dunia Pendidikan Indonesia, Quo Vadis? (I), saya menulis bahwa bangsa Indonesia memiliki kreatifitas yang kalah jika dibandingkan dengan negara-negara Barat. Indikator-indikatornya juga sudah saya jabarkan.

pic source: Educationjustice.com

pic source: Educationjustice.com

Sebelum saya menuliskan solusinya, ada baiknya kita mengetahui dahulu manfaat menjadi bangsa dengan inovasi dan kreatifitas yang tinggi.

Saat kita melihat sejarah, statistik dan angka, inovasi dan kreatifitas suatu bangsa dalam menguasai ilmu kemudian menghasilkan dan mengaplikasikan inovasi khususnya teknologi selalu menjadi bukti rutin kemakmuran kan kemajuan bangsa tersebut. Hal tersebut dapat dilihat semenjak zaman Mesir Kuno, zaman Romawi, zaman keemasan Islam hingga era modern.

Saat kita geser ke Indonesia, kualitas pendidikan, kemampuan berinovasi dan tingkat kreatifitas juga berpengaruh nyata terhadap tingkat kemajuan bangsa Indonesia.

Tingkat kemajuan bangsa Indonesia berkorelasi sangat nyata dengan kualitas pendidikan dan kapasitas teknologinya. Carut marutnya sistem pendidikan Indonesia dan penghargaan pemerintah serta masyarakat yang minim kepada para ilmuwan dan teknokrat diyakini turut menyumbang pada rendahnya tingkat inovasi dan kreativitas bangsa Indonesia. Kita masih pada level pengguna teknologi dan baru mampu sedikit mengadopsi teknologi. Sampai pada tahap implementasi secara luas? Sayangnya belum.

Rendahnya daya saing ekonomi Indonesia (peringkat ke-50 dari 144 negara) serta rendahnya Indeks Pembangunan Manusia Indonesia yang hanya sebesar 0,629, yang berarti di bawah rata-rata nilai IPM menengah yakni 0,640 adalah hasil nyata buruknya sistem pendidikan Indonesia.

Sekarang, bagaimana caranya agar kita mampu meningkatkan daya inovasi dan kreatifitas bangsa Indonesia. Sekali lagi, dengan bersumber dari “Why Asians Are Less Creative than Westeners”, Profesor Ng Aik Kwang menawarkan solusi-solusi berikut ini:

  1. Menghargai proses. Jadikan pengabdian dan pencapaian sebagai dasar untuk menghargai seseorang, bukan dari besarnya kekayaan yang dimiliki. Tidak ada gunanya berbangga sumbang sana-sini atau hibah sana-sini jika sumber dananya dari korupsi.
  2. Jadikan pendidikan berbasis pemahaman sebagai kegiatan utama. Hentikan pendidikan yang mengedepankan atau bersumber kunci jawaban. Berikan kesempatan bagi para murid untuk memahami bidang yang disukai. Memahami suatu isu bukan hal mudah, kadang yang merasa ahli di bidang tertentu bisa salah dalam mengambil kesimpulan meski dia merasa yakin dengan jawabannya
  3. Hindari menjejali murid dengan banyak hafalan. Lebih baik para murid memilih sedikit mata pelajaran tetapi benar-benar memahaminya daripada belajar banyak tapi sebenarnya tidak memahami apa-apa.
  4. Biarkan para murid memilih profesi berdasarkan rasa cinta (passion) terhadap bidang tersebut. Jangan memaksakan kehendak untuk mengambil jurusan atau pekerjaan tertentu yang tujuan utamanya menghasilkan lebih cepat dan lebih banyak uang.
  5. Rasa penasaran kemudian berani ambil risiko adalah basis kreativitas. Beranikan diri bertanya!
  6. Guru bukan mahadewa yang mengetahui segalanya. Guru adalah fasilitator. Mari mengakui dengan bangga dan terbuka jika kita memang tidak tahu dan tidak memahami. Menjadi manusia sok tahu hanya akan membuat kita terlihat semakin bodoh.
  7. Setiap ketertarikan yang tumbuh dalam diri manusia adalah anugerah Tuhan YME. Sebagai generasi yang lebih tua, kita wajib mengarahkan generasi yang lebih muda untuk menemukan hal-hal yang menjadi daya tariknya dan memberikan dukungan.

Saat kita semua mampu menerapkan ketujuh hal di atas bagi diri kita dan generasi penerus kita, maka cita-cita kita bersama dengan Izin Allah akan terwujud, yaitu bangsa Indonesia sebagai bangsa yang maju, makmur, sejahtera dengan kekuatan ekonomi yang sangat besar di tahun 2030. (Andika Priyandana – Editor-in-Chief Marketing.co.id)

 

This article powered by eXo Digital Agency. eXo is a digital media agency serving local and international brands ranging from SME (small and medium enterprises) to multinational companies from various industries. We are an all-round agency with tremendous experience in digital activation, social media, search engine marketing, interactive game, web and software development.

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top